CATATAN KRITIS 2017

CATATAN KRITIS 2017

Kami Tolak Tambang PT. EMM

Masyarakat Adat Pining Tolak Tambang Sampai Kiamat

Ratusan masyarakat adat di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues melakukan aksi penolakan aktivitas pertambangan dalam hutan di Kawasan Ekosistem Leuser, Selasa (24/05/2016). Aksi tersebut diisi dengan orasi nilai kearifan lokal, petisi tolak tambang dan peresmian tugu “tolak tambang sampai kiamat” di pining.
Koordinator aksi, Abukari Aman Jarum dalam orasinya menyebutkan, pihaknya menolak setiap usaha pertambangan dalam kawasan hutan di daerah mereka. Menurut Aman Jarum, pertambangan dalam kawasan hutan merupakan perbuatan yang berdampak buruk bagi manusia dan lingkungan.
Lewat aksi tersebut, kata dia, masyarakat pining ingin menyampaikan pesan kepada pemerintah dan para pihak lain nya, bahwa masyarakat setempat tidak akan menerima eskploitasi kawasan hutan untuk kegiatan pertambangan sampai kapan pun.

Disebutkan Aman Jarum, hutan pining adalah milik masyarakat adat setempat. Karena itu, pengelolaan dan pemanfaatan hutan pining harus dengan persetujuan dan hanya untuk kepentingan masyarakat pining, bukan demi kepentingan serta keuntungan korporasi tertentu.
“Hutan pining adalah milik masyarakat pining dan pengelolaannya juga harus sesuai dan se izin masyarakat pining. Masyarakat Gayo telah mengelola alam dan isinya secara arif dan bijak sana secara turun temurun. Hal ini dapat dilihat dari peraturan-peraturan adat yang ada ditengah masyarakat gayo,” kata Aman Jarum.
Ia menambahkan, dirinya dan masyarakat adat pining lain telah menjaga dan merawat hutan di kawasan tersebut sejak dulu.  Kepedulian dan menjaga hutan dan lingkungan pining, kata Abukari, adalah pesan dari kakeknya. Pesan tersebut, kata Aman Jarum, masih tetap dan akan terus dipegangnya sampai kiamat.
Dalam orasinya, Aman Jarum juga mangajak masyarakat gayo lues dan masyarakat dunia untuk peduli terhadap keberadaan hutan leuser yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia dan masa depan alam ini.
“Apabila hutan pining rusak maka yang akan mendapatkan akibat bukan hanya masyarakat pining saja, akan secara langsung juga akan berdampak juga  bagi masyarakat di Aceh Tamiang, Langsa dan Aceh Timur juga akan terdampak,” ujar Aman Jarum yang aktif menjadi salah satu pegiat untuk pelestarian hutan leuser sejak tahun 1967.  (Ed/al1)
Sumber : AtjehLINK
Baca:  Emil Salim: KEL Harus Masuk Dalam Qanun RTRW Aceh

No Comments Yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komitmen Bersama

Komitmen Bersama

Hari Lingkungan Hidup Dunia

Hari Lingkungan Hidup Dunia

WALHI Aceh Bersama Mahasiswa Tanam Pohon di Hari Bumi

WALHI Aceh Bersama Mahasiswa Tanam Pohon di Hari Bumi