HABA BEUTONG TOLAK PT EMM

Berebut Air di Tamiang Hulu

Oleh: M. Nasir

Pembangun pabrik semen PT. Tripa Semen Aceh (TSA) di Kampung Kaloy, Kec. Tamiang Hulu, Kab. Aceh Tamiang memiliki dampak terhadap air di lokasi kegiatan maupun lingkungan sekitarnya. Dampak tersebut dapat meliputi merusak sumber air, dan juga kuantitas ketersediaan air yang ada.

Salah satu dampak dari pabrik semen adalah kebutuhan air yang cukup besar, 3,5 ton semen membutuhkan air 1 ton air[1]. Kapasitas produksi pabrik semen PT. TSA sebesar 10.000 ton semen per hari[2]. Bila dilihat dari kapasitas produksi, maka dapat dipastikan PT. TSA membutuhkan air sebanyak 2.857,14 ton air per hari, dan untuk jangka waktu setahun membutuhkan air sebanyak 1.042.857,14 ton air.

Kabupaten Aceh Tamiang merupakan daerah yang rawan banjir di Aceh. Bukan dalam arti kelebihan air, akan tetapi bencana banjir terjadi karena kawasan DAS dan daerah resapan air lainnya telah rusak akibat eksploitasi dan ekspansi lahan untuk perkebunan kelapa sawit dalam skala besar. Perkebunan kelapa sawit dalam bentuk Hak Guna Usaha (HGU) di Kec. Tamiang Hulu, Kab. Aceh Tamiang seluas 7.409,96 hektar, di bawah penguasaan enam perusahaan perkebunan[3].

Tumbuhan kelapa sawit merupakan jenis tanaman yang rakus air, setidaknya setiap batang kelapa sawit membutuhkan 25 liter air per hari[4]. Jika diakumulasi, dalam luas satu hektar kebun ditanami sebanyak 136 batang kelapa sawit[5]. Untuk satu hektar perkebunan kelapa sawit membutuhkan 3.400 liter air per hari. Dengan demikian, untuk luas 7.409,96 hektar perkebunan kelapa sawit di Kec. Tamiang Hulu membutuhkan air sebanyak 25.193.864 liter per hari, atau 25.193,86 ton air per hari[6].

Selain untuk usaha perkebunan, kebutuhan air juga untuk lahan pertanian sawah yang ada di Kec. Tamiang Hulu. Lahan pertanian sawah di Tamiang Hulu memiliki luas 520 hektar[7]. Kebutuhan air yang harus diairi untuk sawah sebesar 1,75 liter per detik per hektar[8]. Bila diakumulasi, dalam satu menit sawah membutuhkan air 105 liter per menit per hektar, 6.300 liter per jam per hektar, dan 151.200 liter per hari per hektar. Dengan demikian, luas sawah 520 hektar membutuhkan air 78.624.000 liter per hari atau 78.624 ton per hari.

Baca:  Reclaiming Pilihan Terakhir Petani Aceh, Mungkinkah?

Air juga menjadi kebutuhan pokok bagi warga, jumlah penduduk Kec. Tamiang Hulu sebanyak 18.197 jiwa[9]. Setidaknya ada tiga sumber air yang digunakan oleh warga, dihitung berdasarkan bangunan tempat tinggal yang menggunakan air sumur sebanyak 3.431, sungai 508, dan dengan cara membeli 595.

Standar kelayakan kebutuhan air bersih adalah 49,5 liter/kapita/hari. Badan dunia UNESCO sendiri pada tahun 2002 telah menetapkan hak dasar manusia atas air yaitu sebesar 60 ltr/org/hari[10]. Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum membagi lagi standar kebutuhan air minum tersebut berdasarkan lokasi wilayah. Penduduk Pedesaan dengan kebutuhan 60 liter/per kapita/hari,  Kota Kecil dengan kebutuhan 90 liter/per kapita/hari, Kota Sedang dengan kebutuhan 110 liter/per kapita/hari, Kota Besar dengan kebutuhan 130 liter/per kapita/hari, dan Kota Metropolitan dengan kebutuhan 150 liter/per kapita/hari. Dengan demikian, kebutuhan air untuk penduduk di Tamiang Hulu sebanyak 1.091.820 liter per hari atau 1.092 ton air per hari.

Selain itu, Kecamatan Tamiang Hulu juga memiliki 1 (satu) unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) dengan kapasitas 20 liter air per detik[11]. Bila dihitung dengan kapasitas tersebut, membutuhkan air 1.200 liter per menit, 72.000 liter per jam, dan 1.728.000 liter per hari atau 1.728 ton per hari.

Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan, kehadiran PT. TSA di Kampung Kaloy, Kec. Tamiang Hulu, Kab. Aceh Tamiang dalam proses produksinya akan terjadi perebutan air untuk memenuhi kebutuhan produksinya. Karena kondisi saat ini, potensi air yang dapat dimanfaatkan di Kabupaten Aceh Tamiang mencapai 10.322.641 m3/tahun, yang berasal dari air permukaan dan air tanah[12]. Sedangkan untuk kecamatan Tamiang Hulu memerlukan sumber air dengan debit minimal 2.962,66 m3/hari, atau 2.962.656 liter/hari, atau 34,29 liter/detik. Sumber air tersebut berasal dari sungai simpang kiri dengan kapasitas pengambilan 40 liter/detik, dapat memenuhi kebutuhan sesuai perencanaan tahun 2015 dengan tingkat pelayanan 50%[13].[]

Baca:  Jokowi, Cekmad & Moratorium Sawit

Penulis: M. Nasir (Kadiv Advokasi Walhi Aceh)

[1] Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.05 Tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha dan / atau Kegiatan yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, tanggal 10 April 2012, Berita Negara RI Tahun 2012 No.408, tanggal 12 April 2012.)
[2] KA AMDAL PT. TSA
[3] Data Walhi Aceh.
[4] http://www.radarbangka.co.id/berita/detail/sungailiat/1818/air-pdam-diserap-kelapa-sawit.html
[5] https://www.investasikelapasawit.com/estimasi-pendapatan/
[6] Air tawar 1 ton sama dengan 1000 liter
[7] Tamiang Hulu Dalam Angka Tahun 2014
[8] http://husnicahyagumilar.com/rumus-7-cara-menghitung-kebutuhan-debit-air-untuk-irigasi/
[9] Aceh Tamiang Dalam Angka 2014
[10] http://www.atbbatam.com/metro/index.php/component/k2/item/78-standar-kebutuhan-air-bersih-setiap-orang
[11] Aceh Tamiang Dalam Angka 2014
[12] Dinas Pengairan Pemerintah Aceh; Laporan Akhir Penyusunan Pola Terpadu Pengelolaan Wilayah Sungai Tamiang-Langsa, 2012
[13] DED PDAM Aceh Tamiang Tahun 2010.