CATATAN KRITIS 2017

CATATAN KRITIS 2017

Kami Tolak Tambang PT. EMM

Ijas Jaswar Pemenang Kontes Menulis Hari Bumi di Steemit

WALHI Aceh ikut berpartisipasi dalam perayaan Hari Bumi 22 April 2018. Selain memeriahkan dengan event perkemahan dan penanaman pohon bersama mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Pante Kulu Banda Aceh, di kawasan hutan Jantho Aceh Besar, juga ikut berpartisipasi dalam Kontes Menulis Hari Bumi di Steemit. Steemit sebagai platform media sosial yang sedang ngetrend saat ini dianggap cukup efektif sebagai media kampanye lingkungan. Partisipasi WALHI Aceh dalam ajang kontes yang bertema “Gagasan Steemian Dalam Menjaga Bumi”, WALHI Aceh akan mempublikasikan karya tulis juara I di website resmi WALHI Aceh.

Yang menjadi pemenang kontes atas nama @ijas.jaswar dengan judul tulisan “Kecintaan Bumi Berawal dari Rumah Kita #Popok Jangan Membunuh Anakku”. Karya tersebut mendapatkan nilai vote sebesar 107 vote dari steemian, dengan total hadiah yang didapatkan sebesar 40 Steem Dollar (SBD) dari pihak penyelenggara @nasir83.

Berikut karya tulisnya:

Assalamualaikum wr. wb.

Dalam menyambut Hari Bumi pada 22 April nanti, saya melalui steemit ingin mengambil bagian untuk berpartisipasi dalam mengkampanyekan Hari Bumi di Indonesia dengan membuat sebuah tulisan bertemakan Gagasan Steemian Dalam Menjaga Bumi

Pertama sekali saya ucapkan terima kasih kepada @nasir83 yang mempunyai ide brilian dalam memanfaatkan atmosfer steemit sebagai media sosial masa depan dalam mewujudkan kepeduliannya terhadap bumi. Berikutnya juga ucapan terima kasih kepada semua sponsor yang telah terlibat dalam mensukseskan gagasan cemerlang ini. Semoga apa yang dilakukan ini mendapat keberkahan bagi kemaslahatan bersama. Aminnnn..

Latar Belakang

Bagi kita yang mempunyai bayi atau anak balita biasanya pernah atau terbiasa menggunakan popok instan atau popok sekali pakai, atau lebih dikenal dengan sebutan pempes. Popok sekali pakai ini memang sering membuat dilema. Sudahlah harganya yang mengalahkan harga cabe, hanya bisa dipakai sekali pula dan kemudian harus langsung dibuang. Tapi kalau tidak pakai popok? Oppsss, hanya ibu-ibu super tangguh dan rajinlah yang sanggup menjawabnya.

Kegunaan dari popok ini memang sangat memudahkan para orang tua untuk menampung dan menyerap buang air anaknya sehingga tidak harus sering-sering mengganti celana. Terlebih lagi kalau sedang dalam aktivitas bepergian, “barang ajaib” ini memang menjadi solusi untuk tidak menambah kerepotan.

Baca:  Walhi Aceh dan Formalin Desak Pemerintah Evaluasi Izin PT THL

Gaya hidup, efisiensi waktu, dan praktis penggunaannya adalah beberapa alasan mengapa orangtua kini lebih suka menggunakan popok instan. Popok ini biasanya akan ada seiring dengan kehadiran buah hati mereka. Ini sudah menjadi keperluan wajib yang harus selalu tersedia.

Tingkat pemakaiannya yang tinggi sesuai kebutuhan penggunaan telah menjadikan popok instan ini sebagai salah satu dari sekian banyak sampah rumah tangga yang sering dibuang begitu saja. Sampah ini biasanya ditumpuk ditempat pembuangan sampah lainnya. Hal itu dilakukan berulang-ulang dengan harapan sampah tersebut lama kelamaan akan hancur dengan sendirinya. Ada juga yang membuangnya ke sungai disekitar tempat tinggal mereka karena menganggap hal tersebut jauh lebih mudah dan cepat.

Popok sekali pakai ini biasanya terbuat dari bahan penyerap seperti tissue dan gel yang dikombinasikan dengan bahan plastik sebagai bagian penahan luarnya. Popok yang dibuang setelah pemakaiannya ini akan menjadi sampah yang terus menumpuk dari waktu ke waktu. Komponen plastik yang digunakan sebagai bahan utamanya menjadikan sampah ini susah terurai dalam tanah. Proses pembakaran juga sulit dilakukan karena tingginya kandungan air/urin yang terdapat dalam sampah tersebut. Sampah popok bekas ini menurut beberapa artikel memerlukan waktu 250-500 tahun untuk dapat terurai secara sempurna. Kondisi seperti ini menjadikan ia berpotensi besar sebagai limbah yang dengan cepat merusak lingkungan.

Satu orang balita umumnya menggunakan 3 popok dalam satu hari. Mari kita mulai berhitung. Kalau satu rumah saja terdapat satu balita maka sampah popok akan terkumpul sebanyak 3 lembar dalam sehari, dan meningkat menjadi 21 lembar dalam seminggu, 90 lembar dalam sebulan, 1.095 lembar dalam setahun, dan 3.285 lembar dalam 3 tahun (karena orang tua umumnya baru melepas penggunaan popok ini pada saat balita berusia 3 tahun).

Helllooo kawan steemian, itu baru satu balita di satu rumah. Sekarang mari kita tingkatkan hitung-hitungan kita supaya latar belakang masalah ini menjadi lebih jelas.

Saya mengambil sampel hitungan di Kabupaten Bireuen dengan jumlah desa sebanyak 609 desa (data sensus penduduk 2018). Saya andaikan saja rata-rata setiap desa mempunyai 30 balita maka akan didapati 18.270 balita di Bireuen. Sesuai hitungan kita diatas tadi terhadap penggunaan popok pada setiap balita maka akan kita dapati tumpukan sampah unik ini sebanyak 60.016.950 lembar setiap tiga tahun untuk satu Kabupaten Bireuen.

Baca:  Tegas! Masyarakat Beutong Tolak Perusahaan Tambang Emas

Sahabat steemian mungkin lebih pandai pada hitung-hitungan berikutnya. Kira-kira berapa ya jumlah sampah-sampah ini untuk 6.474 desa di Provinsi aceh? Atau 83.184 desa/kelurahan di Indonesia? Atau desa diseluruh dunia? Tentu saja angka fantastis akan muncul dan itu mengejutkan kita. Hanya angka? Ya, memang hanya angka yang diilustrasikan. Tetapi sahabat, dengan jumlahnya yang begitu besar pernahkah kita membayangkan suatu hari nanti bumi ini akan disesaki oleh popok berbau pesing dan kotoran buah hati kita? Dan pernahkah kita membayangkan sebenarnya sampah yang kita hasilkan itu adalah akumulasi dari gaya hidup kita? Atau justru dari sifat malas kita? Atau ……?

Mungkin kita menolak kalau dikatakan telah menghacurkan bumi ini perlahan-lahan. Atau mungkin juga kita akan sangat marah jika dikatakan menjadi pembunuh bagi anak-anak kita. Tetapi kenyataannya, memang kitalah yang telah menenggelamkan mereka dalam bumi lautan sampah yang kita ciptakan sedemikian rupa dengan penuh kesadaran. Keterpurukan ini lambat laun akan menjadi bencana bagi kita dan juga generasi seterusnya. Wallahu A’lam bish-shawabi (Allah Mahatahu yang benar/yang sebenarnya).

Lokasi

Tempat dari gagasan menjaga bumi ini tidaklah jauh kemana-mana. Semuanya berangkat dari tempat terdekat dengan kita, yaitu rumah. Masing-masing rumah yang mempunyai balita adalah tempat dari gagasan ini diwujudkan. Lokasi yang dipilih adalah Desa Blang Asan, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, Indonesia. Tempat tersebut dipilih karena merupakan daerah domisili dari penulis yang ingin mewujudkan misi “Kecintaan Bumi Berawal dari Rumah Kita”.

Solusi (Gagasan)

Kondisi yang memprihatinkan dari hari ke hari ini perlu mendapat perhatian serius dari kita semua. Berangkat dari permasalahan tersebut, harus ada satu gagasan dan tindakan untuk mengurangi sampah ini dan membantu menjaga lingkungan.

Salah satu terobosannya adalah dengan memanfaatkan keberadaaan limbah popok instan menjadi satu produk lain yang lebih berguna bagi kehidupan, contohnya dalam budidaya pertanian. Caranya adalah dengan menjadikan popok sebagai media tanam. Popok bekas buat menanam? Apa bisa ya? 😀😀 tentu saja bisa asalkan ada usaha.

Baca:  Walhi Aceh dan Prodi SA UIN Jalin Kerja Sama

Gunting popok dan keluarkan isinya. Isinya yang berupa gel itulah yang dimanfaatkan. Gel-gel yang terkandung didalam popok dapat dicampurkan dengan tanah sebagai media tanam. Gel-gel tersebut sangat bagus untuk menyerap air dan dapat mempertahankan kelembaban tanah. Gel mampu menampung air sehingga tanah yang kita siram tidak cepat menjadi kering. Hal ini dapat mengurangi intensitas penyiraman, karena air akan dialirkan oleh gel secara perlahan-lahan. Intensitas penyiraman menjadi satu faktor penting dalam budidaya pertanian terlebih dimusim kemarau dan bagi daerah yang kekurangan/krisis air.

Selain itu, gel-gel dalam popok yang mengandung urine tersebut juga berguna sebagai media nutrisi dan pupuk organik cair. Dengan demikian bercocok tanam dengan menggunakan popok bayi rupanya lebih menyuburkan tanaman.

Media tanam ini dapat dimasukkan kedalam wadah seperti pot, polibeg ataupun dapat juga terus ditaburkan diatas tanah. Media tanam campuran tanah dan gel popok instan dapat digunakan untuk menanam berbagai jenis tanaman. Diantaranya tanaman hias, tanaman palawija, cabai, tomat, bayam, kangkung, bahkan tanaman buah berumur panjang.

Sahabat steemian, jadi selain dapat menyelamatkan bumi, ternyata pemanfaatan limbah ini justru dapat memberi dampak positif bagi individu. Hal ini karena tindakan dari gagasan tersebut bukan hanya mampu meningkatkan kualitas lingkungan hidup kearah yang lebih baik, tetapi juga menjadi solusi bagi daerah pertanian khususnya daerah yang mengalami kondisi krisis air serta menjawab permasalahan ketersediaan pangan global dengan laju peningkatan populasi penduduk dunia yang sangat cepat, bahkan beberapa kali lebih cepat dibandingkan laju pertumbuhan makanan.

Nah sahabat, jelas bukan? Limbah musnah, lingkungan jadi bersih, kecukupan air bagi tanaman terjaga, ketersedian pangan juga terpenuhi hanya dengan satu gagasan saja. Sungguh luar biasa bumi ini kalau ada ribuan bahkan jutaan gagasan penyelamatannya. Karena itu, marilah bersama-sama kita fikirkan gagasan berikutnya ya!!! 😍😘 👍👍

Salam steemit, Salam Hari Bumi
Aceh, 21 April 2018
@ijas.jaswar

Berikut link postingan secara lengkap Kecintaan Bumi Berawal dari Rumah Kita #Popok Jangan Membunuh Anakku

Pengumuman Pemenang Kontes Menulis

Kontes Menulis Hari Bumi

Komitmen Bersama

Komitmen Bersama

Hari Lingkungan Hidup Dunia

Hari Lingkungan Hidup Dunia

WALHI Aceh Bersama Mahasiswa Tanam Pohon di Hari Bumi

WALHI Aceh Bersama Mahasiswa Tanam Pohon di Hari Bumi