Ketika Siswa Belajar Lingkungan

Oleh: Hilmawati Rizky (Staf database WALHI Aceh)

Belajar adalah sebuah kata yang mengandung arti yang cukup dalam, ia dapat menjadikan seseorang sangat pintar dan bersinar, belajar menjadi kunci untuk membuka seluruh pintu dunia dan pintu akhirat, bisa menjadi penunjuk arah yang benar namun bisa juga menjadi bumerang bagi si pelakunya apabila tidak dipahami. Belajar tak pernah mengenal tempat, tak mengenal kedudukan, tak mengenal derajat, tak mengenal waktu dan tak pernah mengenal usia. Banyak hal yang dapat dipelajari, mulai dari hal-hal kecil dan sederhana hingga hal-hal yang besar dan komplit. Segala hal tersebut ada di dalam setiap hembusan nafas, setiap detakan jantung, setiap gedipan mata, setiap suara yang menggema di telinga, setiap uluran tangan dan setiap langkah kaki.

Beribu makna yang diperoleh dari belajar yang menciptakan ilmu pengetahuan, pemahaman dan etika. Ya…. Ilmu pengetahuan yang menjadikan seseorang cemerlang, pemahaman yang menjadikan seseorang berpikir dan etika yang menjadikan seseorang berhati-hati untuk bertindak. Ketiga hal ini, adalah point penting yang ada dalam kehidupan si pelakunya belajar.

Kehidupan yang merupakan proses manusia dalam lingkungan menjadi sosok idola, namun sosok idola tersebut acap kali melakukan hal yang buruk terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh keserakahan. Padahal lingkungan memberikan segala yang dibutuhkan manusia namun manusia mengambil lebih dan lebih hingga menyakitinya, dan menjadikannya lingkungan tak seimbang dan terbuang.

WALHI, sebuah NGO yang bergerak dalam bidang lingkungan memiliki keinginan untuk menjadikan lingkungan kembali indah dan lestari sehingga memberikan kedamaian bagi setiap makhluk dengan cara mengajak semua orang untuk paham, peduli dan cinta lingkungan dengan berkampanye dan mengajarkan hal-hal yang seharusnya diperhatikan dalam mengelola lingkungan. Salah satunya adalah mengajarkan arti penting lingkungan pada siswa-siswi SD Sukma Bangsa Pidie yang merupakan bunga bangsa. Benar… Bunga bangsa yang apabila di rawat dengan baik akan menjadikan kehidupan penuh dengan warna yang berarti.

Baca:  Menjadi Raja di Tanah Sejengkal

SD Sukma Bangsa adalah salah satu sekolah swasta tersohor di Aceh, siswa-siswinya cukup terampil, pintar dan berbudi pekerti dalam setiap bertindak dan berbicara. Didampingi oleh beberapa guru, mereka datang untuk mengunjungi WALHI Aceh pada hari kamis, 11 Februari 2015 pukul 12.00 hingga 15.15 WIB dalam rangka mengenal lebih dekat WALHI Aceh dan belajar bersama mengenai arti penting lingkungan untuk kelestarian hidup.

Antusiasme yang menggebu-gebu menjadikan mereka berpikir kritis untuk melakukan segala aktivitas, dengan bimbingan guru-guru yang terpilih mendidik mereka menjadi sosok yang sopan dan santun. Satu demi satu WALHI Aceh mengajarkan, menceritakan dan memberi pemahaman terhadap lingkungan yang semakin hari semakin sakit, semakin hari semakin terluka akibat nafsu manusia yang merajai.

Alam tidak butuh manusia, tapi manusia butuh alam”, sebuah kalimat penting yang memiliki arti tajam. Alam tempat kita hidup dapat memperbaiki dirinya, namun keinginan manusia membutakan mereka dan kini telah menjadi bumerang bagi manusia itu sendiri yang ditandai dengan berbagai bencana menimpa kehidupan semua umat. Siswa-siswi SD Sukma Bangsa sungguh menyerapi kalimat ini sebagai pengendali diri dan menjadikan diri sebagai seorang pencinta, ya benar…. Pencinta Alam.

Hal ini merupakan salah satu contoh, bahwa setiap insan yang bernyawa memiliki tugas untuk terus belajar dan menjadikan ilmu yang dipelajari menjadi pedoman dalam bertindak. Siapa pun ia, dimana pun ia dan berapapun usianya dapat terus belajar dan terus belajar, layaknya peribahasa “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”. Tunggu apalagi, masihkan berpikir panjang untuk mulai belajar ?, haruskah menunggu dunia menjadi alam hampa ?, haruskah menunggu lingkungan menjadi ladang mati ?.

Baca:  Berebut Air di Tamiang Hulu