HABA BEUTONG TOLAK PT EMM

PROFIL KASUS

New Picture (4)Kuala Seumayam, adalah sebuah desa yang saat ini terletak di daerah Kecamatan Darul Makmur kabupaten Nagan Raya. Yang mempunyai luas 1,5 Ha berpenduduk 500 jiwa atau sekitar 83 keluarga Kuala Seumayam tinggal di rumah-rumah kecil bantuan pemerintah (BRA)

Sebelum masuk dalam wilayah pemekaran, Kuala Seumayam masih tunduk dalam kabupaten Aceh Barat. Kehidupan masyarakat Desa Kuala Seumayam Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya, belum dapat dikatakan hidup dalam standar kehidupan yang layak. Desa Kuala Seumayam belum memiliki sarana dan prasaran standar kehidupan yang layak seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, akses jalan, dan tanah untuk permukiman penduduk. Kondisi kehidupan ekonomi, sosial dan budaya di desa Kuala seumayam kecamatan Darul Darul Makmur kabupaten Nagan Raya merupakan salah satu bukti bahwa negara telah melalaikan kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap rakyat. Hal ini ironi dengan kondisi negara yang sudah 69 tahun merdeka apalagi kondisi Aceh yang berstatus sebagai daerah otonomi khusus. Lahan perkampungan termasuk lahan masyarakat untuk bercocok tanam, telah habis dikuasai oleh perusahaan-perusahaan perkebunan.Sesuai keterangan masyarakat, pada zaman sebelum kemerdekaan, masyarakat Desa Kuala Seumayam telah menetap di Dusun Panton Bayu dengan luas areal wilayah 100 Ha, Desa Kuala Seumayam. Namun dikarenakan konflik alam antara masyarakat dengan satwa liar, saat itu ada warga masyarakat yang dimakan harimau, maka pada tahun 1960, masyarakat mengungsi ke wilayah dekat pantai, masih dalam desa yang sama.

New Picture (3)Saat menetap di wilayah pesisir pantai, masyarakat masih menggarap lahan dusun yang ditinggalkan mereka. Umumnya masyarakat berprofesi sebagai petani dan nelayan. Pada masa konflik terjadi sekitar tahun 2002 masyarakat sudah mulai dilarang oleh militer untuk bercocok tanam di dusun panton Bayu dengan alasan daerah itu sangat rawan keamanan. Di tahun 2003, masyarakat Kuala Seumayam terus hidup dalam suasana perang. Banyak rumah masyarakat yang dibakar sehingga banyak masyarakat yang keluar dari Desa Kuala Seumayam untuk menyelamatkan diri dari peperangan.

Setelah mengungsi beberapa waktu, akhirnya sekitar tahun 2004 51 KK masyarakat desa Kuala Seumayam direlokasikan oleh Pemerintah ke wilayah yang ditempati sekarang dengan luas areal 1,5 Ha. Masyarakat yang mendiami wilayah relokasi, berprofesi sebagai nelayan. Mereka mencari kerang di sungai dan menangkap ikan. Pilihan profesi ini dilakukan karena tidak ada pekerjaan lain yang dapat dilakukan oleh masyarakat.Letak geografis wilayah relokasi yang didiami oleh masyarakat sekarang sangat jauh dari kota kecamatan. Sebelum tahun 2004, interaksi masyarakat dengan desa lain dilakukan dengan mengandalkan jalur sungai dan laut. Hubungan interaksi ekonomi masyarakat hanya dilakukan di daerah Pulau Kayu Kec. Susoh Kab. Aceh Barat Daya.Untuk mencapai ke Desa Kuala Seumayam ini, membutuhkan waktu 2 jam serta harus melewati jalan perkebunan PT Kalista Alam. Masyarakat terpaksa harus melewati jalan tersebut karena tidak ada akses jalan lain ke wilayah ini. Saat musim hujan, kondisi badan jalan terlalu sempit dan licin, sehingga sangat susah untuk dilalui.Suasana kehidupan desa ini sangat berbeda dengan desa lain.New Picture (5)

Baca:  "Memerdekakan" Kuala Seumanyam; Walhi Aceh Gelar Pertemuan

Berbagai infrastruktur yang seharusnya ada dalam suatu desa, namun tidak dapat kita temukan diwilayah ini. Sarana pendidikan yang layak seperti desa-desa lainnya tidak tersedia di desaini, seperti gedung sekolah dasar. masyarakat menjadikan sebuah rumah penduduk sebagai tempat pendidikan bagi anak anak sekolah. hanya ada 2 ruang kelas yang dibatasi dengan dinding pemisah. Masyarakat terpaksa menjadikan rumah warga sebagai tempat pendidikan karena jauhnya akses ke desa tetangga yaitu Suak Bahong. Rumah sekolah tersebut tersedia seorang guru honor dan seorang lulusan SMU yang membantu untuk pelaksanaan belajar mengajar.Pendidikan di desa ini hanya sampai kelas 3 saja, sebab selain hanya mempunyai2 ruang belajar, juga tidak ada guru pengajar. Terkadang sekolah libur jika guru pengajar mereka sakit. Setelah selesai kelas 3 sekolah dasar, para siswa terpaksa belajar di kelas 3 lagi. Hal ini selain disebabkan ketidak mampuan ekonomi orang tuanya, jarak yang sangat jauh untuk mencapai ke sekolah di desa tetangganya juga menjadi alasan lain. Tercatat ada 29 siswa yang belajar di sekolah ini mulai dari kelas 1 sampai kelas 3. Berdasarkan keterangan masyarakat setempat, ada beberapa para siswa yang sudah berumur 12 tahun sampai 15 tahun masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar.

New Picture (6)Kebutuhan dasar lainnya adalah sarana kesehatan. Sebagai sebuah desa yang mandiri, desa ini belum memiliki sarana kesehatan. Menurut pengakuan masyarakat,ketika ada yang sakit mereka hanya mengandalkan obat kampung. Jika tidak bisa disembuhkan dengan obat kampung, maka masyarakat terpaksa membawa pasien ke puskesmas desa tetangga yang letaknya berada jauh dari desa Kuala Seumayam.Sedangkan untuk mencapai Rumah Sakit Umum Daerah Nagan Raya, masyarakat Desa Kuala Seumayam harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam jika cuaca cerah.Ketika sampai ke wilayah ini, kita dapat menyaksikan di bagian kiri/kanan sertadi bagian depan belakang rumah warga telah ditanami sawit perusahaan. Akibatnya masyarakat yang mendiami wilayah ini terjepit oleh sawit-sawit HGU PT Kalista Alam. Masyarakat sama sekali tidak memiliki lahan, bahkan yang sangat memprihatinkan, masyarakat desa Kuala Seumayam harus meminta izin kepada PT Kalista Alam untuk menguburkan jenazah jika ada yang meninggal. Kasus ini pernah terjadi pada bulan April 2008 saat salah seorang warga desa meninggal dunia.Persoalan ketiadaan lahan masyarakat karena telah dikuasai oleh PT Kalista Alam telah disampaikan kepada Camat, Bupati dan Gubernur. Namun sampai saat ini belum ada perkembangannya. Hingga saat ini, hampir 10 tahun lamanya masyarakat Kuala Seumayam terpaksa hidup dalam kondisi yang sangat dibawah standar kehidupan layak dan bersengketa dengan PT. Kalista Alam. Sementara PT. Kalista Alam terus memperluas HGU nya sehingga antara perkebunan sawit PT Kalista Alam dengan rumah masyarakat hanya berjarak beberapa meter saja. Sedangkan lahan desa yang juga didiami oleh masyarakatsaat konflik, yaitu wilayah pinggir pantai, sekarang ini telah masuk dalam areal HGU perusahaan lainyaitu PT.ASTRA.New Picture

Baca:  Siaran Pers Bersama: HGU Menggerus Kampung, Rakyat Hilang Ruang Hidup

Kondisi masyarakat sekarang sangat pesimis dengan pendatang dikarenakan banyak yang dating yang Cuma member harapan-harapan palsu dan banyakn data–data yang telah di kasih oleh pihak masyarakat hilang entah kemana, dan juga masyarakat sudah merasa lelah dengan tuntutan mereka baik kepihak pemerintah maupun ke pihak PT. Kalista Alam.

KRONOLOGIS KASUS

  • Sejak zaman sebelum kemerdekaan , masyarakat telah menempati Duson PantonBayu, Desa Kuala Seumayam yang     mempunyai luas areal 100 Ha. Masyarakat berprofesi sebagai petani.
  • Karena terjadinya konflik dengan satwa liar, sebab ada beberapa masyarakat yang diterkam oleh harimau, maka sekitar     tahun 1960, masyarakat mengungsi kewilayah dekat pantai, yaitu Desa Kuala Seumayam.
  • Setelah meninggalkan tanah dusun, masyarakat masih menggarap tanahnya, jenis tanaman yang ditanami berupa pohon   durian dan tumbuhan lainnya serta tempat perkuburan masyarakat.
  • Mulai akhir tahun 2002 dan awal 2003, masyarakat sudah dilarang oleh militer untuk bercocok tanam di dusun Panton   Bayu dengan alasan suasana konflik.Masyarakat terpaksa tidak menggarap lagi tanah mereka. Masyarakat   khawatir,karena jika masuk ke Dusun Panton Bayu, mereka akan dituduh memberikanmakanan kepada GAM. Alasan   lainnya juga dikarenakan masyarakat dibatasi pasokan makanan bila mau masuk ke Dusun Panton Bayu.
  • Semenjak konflik terjadi, banyak rumah masyarakat Kuala Seumayam yang berada di pinggir pantai dibakar sehingga akhrinya mereka keluar dari DesaKuala Seumayam untuk menyelamatkan diri dari peperangan. Setelah tsunamimasyarakat direlokasikan oleh Pemerintah Nagan Raya ke pemukiman sekarangyang luasnya 1,5 Ha.
  • Karena profesi masyarakat Kuala Seumayam sebagai petani, masyarakat mencobauntuk menggarap lagi lahan mereka di dusun Panton Bayu. Namun, pihak PT.Kalista Alam tidak memperbolehkan lagi masyarakat masuk ke wilayah tersebutkarena wilayah itu dianggap sebagai lahan HGU. PT. Kalista Alam
  • Pada tanggal 12 April 2007, Keuchik Kuala Seumayam (Muhammad)mengirimkan surat kepada Bupati Nagan Raya perihal pemberitahuan tanah desa yang telah ditanami sawit oleh PT. Kalista Alam dan masyarakat akan mengambilkembali tanahnya pada tanggal 1 April 2007
  • Pada tanggal 16 Agustus 2007, Bupati Nagan Raya telah mengirimkan surat kepada PT. Kalista Alam perihal penundaan sementara penanaman baru atas tanah sengketa sambil menunggu dulu proses penyelesaian lebih lanjut
  • Selanjutnya Bupati membentuk Tim Pengembalian batas areal HGU PT. KalistaAlam berdasarkan nomor: 050/95/SK/2007, yang diketuai oleh M. KasemIbrahim
  • Setelah adanya pengukuran, anggota Tim pengukur tidak mengetahui hasil pengukuran yang telah dilakukan
  • Bahwa dalam pengukuran terdapat kejanggalan yaitu, sebelum tim pengukuran turun ke lokasi, masyarakat menemukan patok-patok sebagai pembatas lahan HGU. PT. Kalista Alam, padahal sebelumnya patok-patok tersebut tidak pernah ada
  • Sampai saat ini banyak anggota tim pengukuran yang tidak mengetahui hasil pengukurannya bahkan anggota DPRK yang juga sebagai tim pengukuran tidak mengetahui hasil pengukurannya sampai sekarang
  • Selanjutnya pada tanggal 4 Februari 2008, Bupati Nagan Raya mengirimkan surat kepada Direktur PT. Kalista Alam perihal pelaksanaan kegiatan kebun PT.Kalista Alam yang isinya memerintahkan kembali untuk melaksanakan kegiatandi atas tanah yang dipersengketakan tersebut
  • Pada tanggal 19 April 2008, Keuchik Sumber Makmur telah mengirimkan surat kepada Gubernur NAD perihal telah terjadinya penyerobotan tanah masyarakat oleh PT Kalista Alam
  • Pada tanggal 22 April 2008, Gubernur mengirimkan surat perintah kepada Bupati Nagan Raya agar meneliti izin lokasi dari PT Kalista Alam serta menyelesaikan persoalan konflik pertanahan yang terjadi antara PT. Kalista Alam dengan masyarakat
  • Menurut keterangan masyarakat Desa Kuala Seumayam, pada tanggal 9 Juni 2008 pukul 12.00 siang, masyarakat yang hendak mengerjakan tanahnya kembali,namun digagalkan oleh Brimob. Pihak PT Kalista Alam telah mendatangkanBrimob untuk melakukan pengamanan guna menjaga aset mereka dan menakutiserta mengancam warga Kuala Seumayam, yang laki-laki akan dibelah kepalanyaselanjutnya dibawa ke pos sedagkan yang wanita akan diborgol apabila lahantersebut tidak diberikan kepada pihak PT Kalista Alam. Brimob juga mengatakan “jangan percaya lagi kepada pak Camat dan Keuchik, mereka makan suap”
  • Atas persoalan itu, masyarakat Kuala Seumayam telah mengirimkan surat pengaduan kepada Camat Darul Makmur, Koramil Darul Makmur dan Polsek Darul Makmur
  • Pada tanggal 31 Oktober 2008, pihak Camat memanggil beberapa desa untuk melakukan musyawarah penetapan batas antara Abdya dengan Nagan Raya.Pihak Camat berharap agar masyarakat seluruhnya termasuk masyarakat desaKuala Seumayam agar tetap mempertahankan batas alam di tengah sungai
  • Pada hari Sabtu tanggal 1 November 2008, sudah dikerahkan 2 Becho oleh PTKalista Alam untuk mengeringkan dan mengerjakan lahan gambut seluas kuranglebih 60 Ha. Lahan tersebut sedianya akan digarap oleh masyarakat Desa KualaSeumayam, karena menurut pengakuan masyarakat bahwa lahan tersebut padatahun 1996 Geuchik Kuala Seumayam telah mengeluarkan surat keterangan tanahyang diberikan kepada masyarakat Kuala Seumayam untuk menjadi lahan pertaniannya. Namun PT. Kalista Alam telah lebih dulu mengerjakan lahan tersebut.
  • Pada Tanggal 2 November 2008, sudah dikerahkan Brimob oleh PT Kalista Alam di pintu masuk dan di areal lokasi pengerjaan lahan baru.
  • Pemerintah Desa Kuala Seumanyam mengirimkan surat kepada PT. Kalista Alam dengan Nomor 26/IX/Kuala Semanyam/2012 tanggal 19 September 2012 perihal Permohonan Alokasi Lahan Untuk Gampong Kuala Semanyam.
Baca:  Seluas 85% Kawasan Hutan Mangrove Aceh Tamiang Rusak