Galeri Gugatan TUN

Kuala Seumanyam Belum “Merdeka”

Oleh: Nasir Buloh.

Sebuah perjalanan yang cukup melelahkan, penuh rintangan, hambatan, menjadi bukti kalau kami pernah hadir kesana. Kuala Seumanyam, sebuah desa dalam Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Kuala Seumanyam, itulah namanya ibarat sebuah teka – teki yang sampai detik ini belum ada yang mampu pecahkan. Di saat merah putih 70 tahun berkibar dan di saat 10 tahun damai Aceh, tapi mereka disana masih terus mengangkat “bambu runcing” bukti perjuangan menuntut kemerdekaan. Inilah yang menjadi semangat kami untuk mengunjungi mereka, berdiskusi panjang, mendengar curhat mereka, dan menawarkan diri untuk menjadi sahabat atau bagian dari penderitaan yang mereka hadapi. Perjalanan yang lelah-pun tidak terasa, dalam kegelapan malam kami telusuri jalan perkebunan, gelap, sepi, dan sepanjang jalan hanya terlihat jejeran batang sawit kiri – kanan yang tidak mampu kami hitung jumlahnya.

mogok mobilSelain hujan sepanjang perjalanan, tantangan lain yang  kami hadapi mobil kami mogok di tengah areal HGU perkebunan sawit. Bisa kita bayangkan, kalau kondisi seperti ini terjadi pada warga yang mungkin kebetulan sedang membawa ibu hamil yang mahu melahirkan, apa yang terjadi disaat terjebak di tengah areal perkebunan sawit.

Jalan yang berbatuan dan berlobang menambah sederetan kendala menuju ke desa Kuala Seumanyam. Tiada pilihan, karena melintasi jalan perkebunan merupakan satu – satunya cara menuju ke desa Kuala Seumanyam.

Desa Kuala Seumanyam berada dalam areal HGU perkebunan sawit PT. Kalista Alam. Tapi sebenarnya yang paling tepat sebutannya adalah HGU perkebunan PT. Kalista Alam berada dalam desa Kuala Seumanyam. Karena secara sejarah, desa Kuala Semanyam sudah terbentuk puluhan tahun sebelum adanya HGU.

tertahan di pos satpamKondisi ini semakin memperparah kehidupan sosial warga, kenapa tidak keluar masuk warga harus melewati pos penjagaan perusahaan, bukan satu ada dua pos yang saban hari harus warga lewati saat keluar masuk dari desa. Begitu pula dengan kami, sekitar pukul 2 dini hari kami sampai di pos penjagaan, sudah pasti kami harus berhadapan dengan mereka menjelaskan maksud dan tujuan masuk ke desa Kuala Seumanyam. Seakan penuh curiga sang scurity melihat kami, yang kemudian kami dilarang masuk ke Kuala Seumanyam. Setelah terjadi perdebatan panjang, mereka memperbolehkan kami untuk masuk, tapi hanya satu mobil dan satu mobil lagi ditahan di pos security. Baru dibolehkan masuk pada saat tim dalam mobil pertama sudah melapor dan mendapatkan izin pada pos kedua, yaitu pos brimob tepatnya di depan pintu masuk pabrik PT. Kalista Alam. Kamipun sepakat dengan negosiasi tersebut, setelah melakukan diskusi kemudian diputuskan yang berangkat pertama untuk menghadap pos brimob sebanyak lima orang yaitu Nasir Buloh (Walhi Aceh), Zulfikar Muhammad (Koalisi NGO HAM), T. Syamsol (Walhi Aceh), Muhajir Juli (Koalisi NGO HAM), dan Topal (Wartawan).

Saat sampai kami di pos Brimob (pos kedua), Danpos meminta kami untuk menghubungi Kepala Desa memastikan bahwa kami benar tamu beliau. Alhamdulillah meskipun sulitnya mendapatkan sinyal, akhirnya terhubung juga dengan Kepala Desa. Kemudian Danpos memberi izin kepada kami untuk masuk ke desa Kuala Seumanyam, dan terlihat salah seorang anggota Brimob menghubungi pos pertama untuk mempersilahkan masuk tim kami ke areal perkebunan.

Baca:  Walhi Aceh Dorong Revisi Pergub No 10/2017

IMG_6059Sekitar jam 3 dini hari kami baru sampai ke desa Kuala Seumanyam, tepatnya disebuah persimpangan kami telah ditunggu oleh seorang warga, bang Ali namanya, dan malam itu tim kami menginap di rumah beliau. Dengan penuh keramahan, bang Ali mempersilahkan kami masuk dan istrirahat dirumah. Terlihat jelas, halaman rumahnya tergenang air sehingga cukup membuat hati-hati salah seorang anggota tim kami Chik Rini dari WWF Aceh saat melangkah.

 Chik Rini melangkahKopi hangat disiapkan buat kami, oleh sosok perempuan (istri Ali) yang katanya hanya dia satu – satunya warga mendapat kesempatan untuk bekerja di perusahaan perkebunan Kalista Alam, itupun sebagai buruh harian. Masalah lapangan pekerjaan juga menjadi salah satu persoalan yang dirasakan oleh masyarakat Kuala Seumanyam. Masyarakat yang dulunya berprofesi sebagai nelayan, kini terpaksa sebagiannya beralih profesi, berkebun dan pencari ikan rawa. Ikan rawa yang menjadi potensi disana adalah Limbek (ikan lele).

Kami sempat bertanya kepada warga “apakah perusahaan tidak memberikan peluang kerja kepada warga?” ya jawabnya tidak. Kondisi saat ini tenaga kerja perkebunan sawit Kalista Alam didatangkanTewas pingsan dari luar daerah, mereka disediakan barak tempat tinggal.

Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, pastinya tim kami “tewas” terlelap di rumah bang Ali, hanya saya dan dua teman lainnya mencoba bertahan untuk sedikit berdiskusi dengan bang Ali terkait persiapan acara besok pagi. Meskipun akhirnya, saya juga “pinsan” diatas karpet rumahnya bang Ali, “bang besok pagi tolong bangunin saya lebih cepat, mahu ambil foto anak-anak pergi ke sekolah” pesan terakhir saya ke bang Ali.

“bang… bang … bangun bang” meskipun terasa berat untuk membuka kelopak mata, saya coba mendengar apa yang disampaikan bang Ali.

“bang… sepertinya acara kita gagal”

kenapa?

“barusan saya ditelpon kalau dijalan sana (jalan menuju desa) banjir parah, airnya setinggi paha orang dewasa, dan warga desa lagi memindahkan barang – barang”

Sempat terpikir sejenak, apa kaitannya antara banjir di jalan dengan warga mempersiapkan barang – barang. Kalau banjir di jalan tentu akan berpengaruh kepada peserta kegiatan tidak bisa masuk ke desa. Tapi kalau masalah warga pindahin barang – barang, ini tentu ada sesuatu yang berhubungan berat dengan banjir tersebut.

Jadi, “ia bang biasanya kalau tinggi air di jalan setinggi paha atau pinggang, desa kita akan tenggelam banjir dengan ketinggian dada orang dewasa”

Biasanya sekitar jam berapa kiriman air tersebut datang?

“Insyaallah sekitar jam 4 sore desa akan tenggelam, itupun jika tidak hujan, kalau hujan akan mempercepat lagi bang”

Astaqfirullahhh…

Tanpa ba bi bu, saya langsung menyampaikan informasi tersebut kepada anggota tim, kemudian kami sepakat meskipun tidak ada peserta lain yang hadir (peserta luar) acara tetap dilanjutkan dengan masyarakat. (baca:“Memerdekakan” Kuala Seumanyam; Walhi Aceh Gelar Pertemuan)

ruang sekolahSebelum kegiatan diskusi, saya dan beberapa teman mencoba untuk mengililingi pemukiman yang mimiliki luas 1,5 ha. Disana kami melihat kesibukan warga, anak-anak bermain ceria, ibu-ibu sibuk dengan aktifitas rutinnya, dan terlihat sebagian warga membawa pulang ikan Limbek yang dijual kepada kepala desa, bapak Muhammad. Anak-anak hari itu tidak sekolah, bukan karena ada kegiatan yang kami buat, tapi karena banjir. Dan satu ruang skeolah yang ada di desa juga terlihat kosong, karena sang guru tidak bisa ke sekolah. (baca:Kuala Seumanyam: Keceriaan Ditengah Himpitan HGU).

Baca:  Gugat Bupati Aceh Tamiang, Walhi Aceh Ajukan 39 Alat Bukti Surat

Anak - anak desa Kuala Seumanyam bermain di himpitan rumahCukup menarik dan penuh kesan apa yang kami lihat di desa. Senyuman anak-anak menyentuh hati kami, kami tahu dibalik senyuman itu tersimpan sejuta masalah. Dan dibalik senyum itu juga terukir sejuta harapan, sejuta mimpi, dan sejuta kehidupan.

Hidup ditengah himpitan perkebunan kelapa sawit tentu bukan sebuah takdir, tapi kondisi ini diciptakan oleh pemerintah. Terdiam disaat kami mendengar curhatan warga, beras bantuan pemerintah juga harus dibeli, beras yang diberikan berwarna hitam, air untuk hidup berwarna kuning, dan sudah menjadi agenda rutin datang tamu (banjir) disaat musim hujan. Tetesan air mata mereka cukup menyentuh hati kami, ibarat hidup dalam sangkar yang dikelilingi jeruji pohon sawit. (baca:Kronologis Kasus Desa Kuala Seumanyam).

wargaHidup ditengah himpitan perkebunan sawit sebuah teka – teki yang belum mampu dipecahkan, tidak hanya kami, Pemerintah-pun gagal dalam memecahkannya. Tapi kami ragu akan itu, karena kami tahu pemerintahlah yang terlibat penuh dalam mendesain teka-teki itu.

Menciptakan sebuah skenario kehidupan, tanpa memperhitungkan hak manusia, hak untuk hidup, pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja. Hidup ibarat ditengah betra yang dikelilingi samudra, samudra hijau dengan jutaan pepohonan sawit, dan terkekang dengan sejumlah aturan.

Kuala Seumanyam seakan telah hilang dalam peta, atau memang di desain untuk menenggelamkan kehidupan, tanpa bekas meskipun tulang benulang bukti kehidupan. Lahan perkuburan disediankan dekat sungai, sungai yang berpotensi abrasi, tidak hanya mereka yang masih hidup yang meninggalkan belum mendapatkan kemerdekaan.

“bang ada ular di sana” kata seorang anak kepada saya. Sambil berlari seakan mereka memberikan pesan kepada saya untuk melihat salah satu potensi desa mereka. Atau juga memperlihatkan kepada saya ular merupakan kawan main dalam hidup mereka. Bermain dengan ular

Mereka begitu akrab dengan alam.

Sesaat kemudian, pak Muhammad selaku kepala desa memberitahukan bahwa warga sudah berkumpul dan siap untuk melaksanakan pertemuan. Kami melihat perangkat desa sudah berkumpul bersama sejumlah warga lainnya. Kami sadar, cukup banyak hal yang ingin disampaikan kepada kami. Satu persatu warga kami beri kesempatan  untuk menyampaikan keluh kesah mereka. Pak Busra selaku Sekdes Kuala Seumanyam membuka kegiatan diskusi, menyampaikan secara umum persoalan yang sedang mereka hadapi. Menyampaikan beragam upaya yang telah mereka tempuh, dan beragam pertanyaan dari teman-teman media memperdalam informasi yang disampaikan.

Terlihat jelas semangan bang Andrian (wartawan Kompas) menggali informasi kepada warga, dan tidak pernah berhenti pulpen bang Haris (wartawan Antara) mencatat keluhan warga. Alat rekam Chik Rini (WWF/Mongabay) lampu merahnya terus berkedip, jeprat jeprett kamera ibarat petir melengkapi pertemuan kami.

Pertemuan Dengan Masyarakat Desa Kuala Seumanyam, Darul Makmur, Nagan Raya, 14 September 2015Zulfikar Muhammad (Koalisi NGO HAM) berperan aktif dalam mentracking alur permasalahan warga, Tofal (Aceh Link) dan Muhajir Juli (The Globe Jounal) juga tidak tinggal diam terus memperdalam informasi dari warga.

Sekitar tiga jam diskusi berlangsung, sapai pada titik akhir disepakati beberapa rekomendasi yang akan menjadi PR bagi kami. Memori pikiran seakan berkata “tambahkan kapasitas kami, untuk bisa menampung semua informasi warga”, meskipun berat tapi kami harus akhiri pertemuan itu, bukan karena bosan, dan bukan karena lelah. Tapi kami harus cepat keluar dari desa, karena kalau tidak kami akan tertahan banjir selama dua hari.

Baca:  Walhi Aceh Gagas Tim Terpadu Pencegahan dan Penegakan Hukum LH di Aceh

Kami di undang untuk makan siang di rumah bang Ali, sejumlah menu telah disiapkan, ikan Limbek menjadi menu andalan santapan siang kami.

Kuala Seumanyam 14 Sept 2015Sambil menikmati lezatnya ikan Limbek, tidak hanya saya, semua anggota tim tidak luput dari kontrol detik dan menit arloji. Karena kami hanya punya waktu tidak lebih 30 menit untuk bisa keluar dari desa, sepanjang jalan sudah di kepung oleh banjir.

Akhirnya kami melengkah pulang, senyuman dan lambaian tangan kado terindah untuk kami. Kami membawa pulang mimpi, cita, dan harapan mereka. Mimpi-mimpi yang tidak akan pernah tenggelang meskipun pulang kami harus mengarungi banjir.

Terimakasih buk! atas makan siangnya.

ibu ibu Mata dan tatapan menyimpan segudang kisah, seakan mereka berat melepaskan kami, hajat untuk terus berdiskusi, curhat, dan berbagi beban. Tapi mereka yakin kami akan kembali dan kami akan jumpa lagi.

Sebuah pengalaman yang sulit kami lupakan, mereka ramah, terasa akrab, dan penuh kekeluargaan dalam melayani kami. Kami tidak merasa asing, dianggap sebagai anak, dan dilayani ibarat tamu. berenang

Jarum jam yang tidak bisa berkompromi memaksa kami untuk melangkah kaki. Dan ditemani oleh Suratno babinsa desa Kuala Seumanyam langkah kmai dituntun meneluri luasnya perkebunan sawit untuk menghindar dari kepungan banjir. Sepanjang perjalan kami melihat seisian kebun sawit dipenuhi air keruh, berwarna kuning, dan melaju cepat karena rindu ke pemukiman warga. Beberapa titik persimpangan kami terjebak banjir, terpaksa turun untuk memastikan titik lobang agar mobil yang kami tumpangi tidak terjebak. Suratno bersama kawannya berada di depan, sebagai kompas perjalanan kami. Anak – anak terlihat bermain dalam derasnya banjir, mereka terasa santai dan tidak terlihat sedikitpun rasa takut, dan kami anggap wajar karena banjir bagi mereka merupakan saat – saat belajar renang.

banjir 1Dua mobil yang kami tumpangi melaju cepat dalam derasnya airnya, Touring terlihat gagah ibarat perahu menerobos gelombang samudara hijau perkebunan sawit. Zulfikar Muhammad, sang sopir yang cukup lihai bagaikan seorang joki terus menancap gas.

Avanza mobil kedua kami terlihat mengikuti jejak sang touring, Sulaiman sang sopir profesional seakan berharap sang touring jangan berlaju kencang.

banjir 2

Basah…. basahhhh… saya dan bang Syamsol Ali mencoba memastikan kedalaman air, untuk memastikan bisa tidak melaju kendaraan. Ternyata hasil pantauan lapangan, jalan tersebut tidak bisa diarungi.

Suratno mencoba mencari jalan alternatif yang bisa dilalui.

banjir 4Luar biasa pengalaman yang kami dapatkan, kami bisa membayangkan bagaimana warga yang kondisi seperti ini sudah menjadi makanan kesehariannya.

Kami mencoba bayangkan, bagaimana jika ada warga yang sakit atau ibu – ibu yang mahu melahirkan, apa jadinya.

Kami lepas dari kepungan banjir, dan kami sampai ke Banda Aceh jam 2 dini hari 15/9/2015.

Komitmen Bersama

Komitmen Bersama