CATATAN KRITIS 2017

CATATAN KRITIS 2017

Kami Tolak Tambang PT. EMM

Kami tidak pernah bermimpi menjadi seorang atlet lomba lari, kami juga terkadang lupa ukuran lapangan bola kaki. Wajar! karena negara hanya memberi ruang buat kami 1,5 hektar, tentu sebuah mustahil ruang tersebut kami jadikan arena lomba lari atau kami desain sebagai lapangan bola kaki. Karena orang tua kami, lahan seluas 1,5 hektar telah digunakan sebagai ruang pemukiman penduduk, membangun meunasah, masjid, dan jalan. Sisanya, hanya cukup untuk membangun satu ruang belajar sebagai sekolah kami, sekolah yang cukup modern dan dianggap terpadu dewasa ini, dalam satu kelas kami disatukan kelas 1 dan 2.

Bermain di himpitan rumahTentu dengan luas pemukiman sebesar itu, kami dianggap anak yang kurang ajar atau tidak tahu diri jika kami mohon disisihkan satu sudut untuk arena bermain. Tidak hanya mereka-mereka yang masih hidup akan menghukum kami, almarhum-pun pastinya akan mengutuk kami, karena untuk mengubur mereka saja tidak tersedia lahan. Jadi wajar,¬† kami anak-anak Kuala Seumanyam saat besar nanti akan menjadi “ninja” atau “hantu kojet” karena keseharian kami selalu berlatih loncat antara pohon sawit satu ke pohon sawit lainnya.

Kawan! rumah kami dikelilingi perkebunan sawit, hanya ada lorong kecil yang bisa kami gunakan untuk arena bermain. Tapi keren kawan! desa kami dijaga ketat oleh aparat keamanan, kalian pasti kalah karena mungkin rumah kalian cuma di jaga oleh satpam. Beda dengan kami se isian desa di jaga oleh satpam, brimob, dan TNI, kerenkan?

Bentar! kalian pernah dengar tidak “Kuala Seumanyam”? tahu tidak daerahnya dimana? atau memang desa kami tidak ada lagi dalam peta Indonesia? tolong pastiin ya, susah sih di desa kami belum ada internet untuk buka google map, hehehee jangankan internet sinyal hp-pun harus ngemissss.

Baca:  Seulawah Sapu Gunung

Desa Kuala Seumanyam itu ada di Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, dan guru kami bilang masih berada dalam NKRI, udah tahukan? dulunya kami tinggal dekat pantai, tapi kemudian karena konflik Aceh kami direlokasikan, saat Aceh damai kami kembali ketempat asal, ehhhhh tiba-tiba desa kami sudah masuk dalam areal HGU perkebunan sawit. Hemmmmmm orang tua kami nggak tinggal diam kawan, berontak mereka, hebat – hebat orangtua kami. Tapi sayang perjuangan mereka belum membuah hasil, meskipun usia kemerdekaan negara kita sudah 70 tahun, dan damai Aceh sudah 10 tahun, tapi kami masih hidup di himpitan areal pemukiman 1,5 hektar. Mungkin karena lagi maraknya rumah minimalis ya kawan! hingga pemukiman kami juga harus minimalis.

Bermain dengan ularLihat ni kawan! kalian berani nggak main sama ular? hemmmm ular itu bagi kami ibarat seorang sahabat. Tapi yang ini ularnya sudah mati lhoooo, kalau masih hidup takut juga sihh. Desa kami sering di kunjungi ular lhooo, maklumlah kan di belakang rumah kami perkebunan sawit luasssss bangetttt. Jangan tanya dehhh berapa luasnya, dengar-dengar sichhh lebih 17.000 hektar, oh ya? Kok tega ya pemerintah kita cuma diberi  1,5 hektar untuk pemukiman kami. Rumah kalian berapa sih luasnya? pasti luaskan? penuh bunga, ada kolam ikan, ada taman, juga ada pohon rindang yang dibawahnya ada kursi santai, benar tidak?

berenangOh ya! kami juga ada kolam ikan, ikannya banyak lhoo. Kolam ikan kami bentuknya pannnnjaaaangggg bangettt, kolam ikan itu mengelilingi desa kami, kami sering mancing, juga terkadang kami belajar renang kawan seruuuu banget. Tahu nggak, heemmm kami juga ada kolam renang, tapi musiman kawan. Saat hujan, halaman rumah kami sulap jadi kolam renang, tapi sayanggg sebelum berenang kami harus beresin barang dulu biar tidak terendam air, kemarin itu karena semangat berenang lupa pindahin buku, basah dechh.

Baca:  Walhi Aceh Inisiasi Pembentukan Task Force Penegakan Hukum LH

Udah dulu ya kawan, jangan lupa tuh bilang sama pemerintah kalau kami masih ada di Kuala Seumanyam. [nasir buloh]

Hari Lingkungan Hidup Dunia

Hari Lingkungan Hidup Dunia

WALHI Aceh Bersama Mahasiswa Tanam Pohon di Hari Bumi

WALHI Aceh Bersama Mahasiswa Tanam Pohon di Hari Bumi