Kuala Seumanyam Bayi KembarAnakku! bukan sebuah takdir kamu terlahir disini, tapi karena sesuatu orangtuamu rela bertahan hidup disini. Bermainlah nak! belum saatnya kami memberitahumu akan beban yang kami rasakan. Tapi kamu, akan kami siapkan untuk menjadi pejuang hebat, kuat, dan pemberani untuk membela ketidakbenaran negeri ini. Kami tidak pernah berharap, kamu akan menjadi pahlawan kemerdekaan republik ini tapi harapan kami, kamu harus menjadi penerus perjuangan untuk merebut kemerdekaan di atas lahan 1,5 hektar. Jika nanti kami orangtua telah tiada, dan perjuangan kami belum usai, maka bendera kemerdekaan kami titipkan pada kalian untuk meneruskan perjuangan kami. Nak! sebenarnya kita merdeka dan hidup damai di negeri ini. Namun sebuah kondisi yang mendesain kehidupan ini, memaksakan kita untuk rela hidup ditengah himpitan perkebunan kelapa sawit.

Nak! kalian itu punya hak, dan sebenarnya negara ini menjamin hak itu. Hak untuk hidup, pendidikan, kesehatan, dan mengembangkan diri, tanpa satu orangpun boleh merebutnya karena itu janji negara untuk kita. Tapi apa yang terjadi, negara seakan tidak pernah hadir untuk memberikan hak itu, kalian nantinya harus menempuh sekitar 15 km menuju sekolah, harus menunda rasa sakit karena fasilitas kesehatan tidak disediakan, dan tentunya kalian harus harus menjadi pengemis untuk mendapatkan pekerjaan.

Kelak besar nanti kalian harus merebut hak itu, dan desa kita harus mampu kalian ukir dengan tinta emas di atas peta Indonesia sehingga semua orang tahu kalau kalian itu ada. Nak! Kuala Seumanyam nama desa kita, sebuah desa terpencil dalam Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Desa kita luas dan kaya, cukup untuk melangsungkan kehidupan kalian di masa yang akan datang, tapi semua itu tinggal cerita nak! karena desa kita telah dirampas oleh penguasa.

Baca:  Walhi: Kerugian Ekologi Aceh Rp 50 Miliar Lebih

Mereka mengkampanyekan kalau desa kita masuk dalam areal perkebunan sawit, mereka membuat kita harus mengemis sepetak lahan di tanah sendiri, mereka membuat aturan yang harus kita ikuti, mereka juga merebut kebebasan kita, kebebasan sebagai bukti kemerdekaan di negeri ini, kini semua itu telah hilang. Tapi sebenarnya, bukan kita yang masuk ke areal mereka, justru mereka yang masuk ke desa kita, dan ini bukti sejarah yang tidak satu orangpun mampu menghapus karena telah terukir di atas batu, dan selalu terekam dalam setiap senyum, doa, dan nisan bagi mereka yang telah tiada.

Pemerintah yang seharusnya menjadi pembela dan penjamin hak – hak kita, tapi terlihat diam, bisu, dan takut kepada mereka yang memiliki segudang modal untuk membeli harga diri kita. Nak! semua ini tidak akan pernah terjadi, jika pemerintah berani dan tegas membela kepentingan kita, tapi yang terjadi mereka lebih melindungi kelompok modal, dan seakan berpesan “mereka bukan rakyat kami”.

Pemerintah  gagal melindungi kita, dan pemerintah harus bertanggungjawab telah terampasnya hak-hak kalian. Dan ini merupakan hutang yang harus dibayarkan di hadapan tuhan kelak nanti. Nak! hidup di tengah himpitan perkebunan sawit bukan sebuah keharusan, kalain harus bangkit melawan ketidakadilan ini. [nasir buloh]

baca juga: Kuala Seumanyam: Keceriaan Ditengah Himpitan HGU

“Memerdekakan” Kuala Seumanyam; Walhi Aceh Gelar Pertemuan