HABA BEUTONG TOLAK PT EMM

Mahasiswa Tolak Perkebunan Sawit di Hulu Sungai Aceh Utara

LHOKSEUMAWE – Aliansi Mahasiswa Peduli Air (AMPA) mengadakan diskusi publik dan konferensi pers dengan mengusung tema “Menakar ancaman penanaman sawit di hulu sungai”, di Gedung ACC, Unimal, Cunda, Kota Lhokseumawe, Minggu, 20 Januari 2019.

Diskusi tersebut turut menghadirkan pembicara yakni, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, Nasir Buloh, Bina Rakyat Sejahtera (Bytra), Rahmad Abubakar, dan tokoh masyarakat Kecamatan Sawang, Rahman.

Koordinator AMPA, Maimun, mengatakan, berdasarkan instruksi Bupati Nomor 548/INSTR/2016 tentang moratorium perkebunan sawit di Aceh Utara, bahwa tidak ada penambahan lahan sawit baru di kawasan Aceh Utara. Kata dia, melihat kondisi pada tahun politik sehingga membuat pemangku kepentingan kecolongan terhadap Inbup tahun 2016 tersebut, maka terdapat perkebunan sawit baru yang sudah ditanam.

Menurut Maimun, instruksi bupati tersebut, dikuatkan dengan hadirnya Inpres Nomor 8 Tahun 2018 tentang Moratorium Lahan Pekebunanan Sawit, yang menyeluruh di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kata dia, karena ketidakcermatan pemerintah, setelah dikeluarkanya Inbup terdapat lahan perkebunan sawit yang sudah di-landclearing dan penanaman, sehingga perkebunan sawit di kawasan Sawang telah berdampak luas kepada masyarakat sekitar dengan tergenang banjir di wilayah Gampong Gunci, akhir 2018 lalu, dan berkurangnya debit air aliran Krueng Sawang.

Bedasarkan survei lapangan, lanjut Maimun, bahwa kawasan hutan Aceh Utara merupakan salah satu kawasan hutan yang mengalami kerusakan terparah di Aceh. Ini jelas akan berdampak pada kekeringan saat musim kemarau dan banjir di musim penghujan, dikarenakan air tidak lagi ditampung oleh akar-akar pohon. Bahkan, semenjak awal tahun 2017 hingga 2019 terdapat beberapa perkebunan lahan sawit baru di Aceh Utara, dan yang paling besar berada di hulu sungai kawasan Gampong Gunci, Kecamatan Sawang, yang mencapai sekitar 3.000 hektare.

Baca:  Walhi Dorong Percepatan Pengakuan Hutan Untuk Rakyat di Ajang COP 23

“Sehingga kita dan 90 organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan berkumpul hari ini (Minggu) sepakat menolak perkebunan sawit di hulu sungai tersebut, akan bersama-sama dengan pemerintah bahu membahu melaksanakan moratorium perkebunan sawit serta mendorong pemerintah menyelesaikan konflik agraria,” kata Maimun kepada portalsatu.com, Minggu.

Maimun menyebutkan, saat ini para mahasiswa telah berupaya sekuat tenaga mengumpulkan data di lapangan seperti wawancara dengan masyarakat, dan analisis hasil laporan kinerja instansi yang berwenang dalam mengawal kebijakan pemerintah. Namun, kata dia, meskipun masih memiliki hambatan beberapa faktor, yakni minimnya informasi publik, tidak ada data yang kongkret terhadap kerusakan hutan yang ada di Aceh. Selain itu, minimnya kehadiran dan koordinasi pemerintah dalam kehidupan sosial masyarakat, walaupun wacana cleangovernment (pemerintah bersih), goodgovernment (pemerintahan yang baik) dan e-government selalu disuarakan setiap debat kandidat.

“Kita berharap pemerintah dan mendesak Gubernur dan Bupati untuk segera menertibkan lahan sawit di hulu sungai sebagai upaya dari inplementasi Inbup dan Inpres tentang moratorium perkebunan sawit tersebut, kita juga mendesak pemerintah untuk menyelesaikan konflik agraria yang ada di Aceh Utara,” ujar Maimun.

Namun, kata Maimun, pihaknya yakin pemerintah dengan semangat menyejahterakan masyarakat, akan lebih mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan kelompok. Tentunya mahasiswa akan selalu bersama pemerintah untuk mewujukan keadilan sosial, dan kesejahteraan rakyat Indonesia pada umumnya dan khususnya masyarakat Aceh.

Maimun menambahkan, sejak diterimanya poin-poin atau tuntutan mahasiswa, pemerintah hanya mempunyai waktu 24 jam untuk menyesuaikan persoalan ini. Jika tidak, maka mahasiswa akan mengunakan student of power (mahasiswa yang berkuasa) untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat. Pemerintah diharapkan dapat melaksanakan poin-poin penting dari tuntutan mahasiswa, dengan demikian cita-cita bersama, air untuk masa depan dan hutan untuk anak cucu tetap terjaga dengan baik.[]

Baca:  Walhi Aceh dan Formalin Desak Pemerintah Evaluasi Izin PT THL

Sumber: http://portalsatu.com/read/news/mahasiswa-tolak-perkebunan-sawit-di-hulu-sungai-aceh-utara-47636