Galeri Gugatan TUN

Peringati HUT Ke 10, AGC Gelar Seminar Lingkungan

Bireuen, 3/5/2016. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Aceh Green Community (AGC) Ke – 10, Perkumpulan AGC menggelar seminar tentang lingkungan di Aula SKB, Cot Gapu, Bireuen, Aceh Selasa (3/5).

Ketua Presidium AGC, Suhaimi Hamid menjelaskan, AGC berdiri pada 1 Mei 2006 di Kabupaten Bireuen, paska bencana tsunami, para penggiat lingkungan bergabung mendirikan perkumpulan Aceh Green Care (AGC).

“Dalam perjalanan,  Aceh Green Care menggantikan nama menjadi Aceh Green Community (AGC), pada 1 Mei 2016, AGC genap berusia 10 tahun, AGC mengajak semua pihak bahu membahu menyelamatkan lingkungan dan melaksanakan pembangunan berkelanjutan di Aceh,” ungkap Suhaimi Hamid.

Sementara Direktur Walhi Aceh, M Nur dalam materinya menjelaskan, program pengelolaan pembangunan berkelanjutan di Aceh masih jauh panggang dari api. kata dia, Qanun tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Aceh sendiri tidak selaras dengan pelaksanaan pembangunan yang dilaksanakan pemerintah.

“Regulasi tentang pengelolaan lingkungan kita masih bermasalah, data tentang luas hutan Aceh sendiri kita tidak punya, kita harus menggunakan data luar, karena itu, konsep pembangunan berkelanjutan belum di implementasikan di Aceh,” katanya.

Kepala Bidang Ekonomi dan Ketenagakerjaan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bireuen, Dailami, S.Hut menjelaskan, pengelolaan lingkungan tidak serta merta menjadi tanggungjawab pemerintah.

“Kita harus bersama-sama menjaga lingkungan, untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan, masyarakat dan stakeholder harus mendukung program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah, bila ada yang salah, mari kita perbaiki bersama,” sebut Dailami.

Akademisi Fakultas Pertanian, Universitas Almuslim, Halus Satriawan SP MSi menguraikan, persoalan lingkungan menjadi tanggungjawab bersama, pemerintah, lsm dan akademis harus bertanggungjawab atas kerusakan lingkungan yang terjadi.

“Aceh harus berbangga, karena Taman Nasional Kawasan Ekosistem Lauser merupakan paru-paru dunia, seiring berjalannya waktu, KEL telah mengalami degradasi karena adanya alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian,” katanya.

Baca:  Tindak Tegas PKS Pembuang Limbah B3 ke Perkebunan Warga.

Lanjut Halus, Danau Lut Tawar yang menjadi sumber air bagi masyarakat di pesisir Aceh terutama Kabupaten Bireuen, Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe juga mulai tercemar, karena itu kerjamasama stakeholder lintas kabupaten sangat diperlukan.

“Ekosistem kita saat ini mulai mengalami kerusakan, karena itu isu pengelolaan lingkungan harus menjadi isu bersama, baik pemerintah, masyarakat, lsm dan akademisi,” pungkas Halus.

Sekedar informasi, Seminar Lingkungan dengan tema ‘Pengelolaan Lingkungan Hidup Untuk Pembangunan Aceh Yang Berkelanjutan’ dihadiri Wakil Ketua DPRK Bireuen, M Arif, Ketua KIP Bireuen, Mukhtaruddin SH MH, perwakilan WWF Indonesia, Azhar, perwakilan Bank Aceh Cabang Bireuen, Aswita Sarina Basri, perwakilan Polres Bireuen, Darmansyah, perwakilan Dandim Bireuen, dan perwakilan Satuan Kerja Pemerintah Kabupaten (SKPK) Bireuen.

Sumber: JOSS.TODAY

No Comments Yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komitmen Bersama

Komitmen Bersama