HABA BEUTONG TOLAK PT EMM

Walhi Aceh Latih Jurnalisme Warga bagi Masyarakat Beutong Ateuh Banggalang

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh memberikan pelatihan jurnalisme warga kepada masyarakat Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya. Pelatihan ini dipandu oleh Ihan Nurdin, Retno Sagito, dan Nova Misdayanti Mandasari dari Forum Jurnalis Lingkungan yang berlangsung di Gampong Kuta Teungoh pada Sabtu-Minggu (23-24/2/2019).

Koordinator pelaksana kegiatan, Azhari, berharap dengan adanya pelatihan ini bisa mengoptimalkan kerja-kerja advokasi yang saat ini sedang dilakukan masyarakat setempat yang menolak kehadiran perusahaan tambang PT. Emas Mineral Murni (PT. EMM) di Beutong Ateuh Banggalang.

Menurut Azhari, informasi-informasi yang disampaikan melalui media tulisan termasuk salah satu cara yang efektif dalam menyuarakan aspirasi masyarakat. Namun, dalam praktiknya kata dia, ada aturan-aturan khusus yang perlu diketahui masyarakat sehingga tidak membuat mereka bermasalah dengan hukum nantinya. Misalnya pemahaman mengenai adanya UU Informasi Transaksi Elektronik.

Ini merupakan pelatihan kedua yang dilaksanakan masyarakat setempat yang difasilitasi Walhi Aceh. Sebelumnya pada Januari lalu pihaknya juga sudah melaksanakan pelatihan di desa yang berbeda.

“Kami rencanakan akan berlangsung hingga tiga kali, sehingga lebih banyak masyarakat yang paham,” ujarnya.

“Ini salah satu upaya kita untuk mencerdaskan masyarakat di sini. Kita berharap masyarakat bisa menyuarakan aspirasinya melalui tulisan juga,” ujar Azhari.

Sementara itu, Wakil Pemimpin Redaksi aceHTrend, Ihan Nurdin, dalam kesempatan itu mengatakan, berdasarkan UUD 1945 Pasal 28F setiap warga negara Indonesia berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.

Namun, karena yang berhak menyampaikan berita ke ruang publik hanyalah jurnalis atau wartawan sebagaimana diatur dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, warga bisa memanfaatkan alternatif lain dengan menjadi jurnalis warga dan menyebarluaskan karya jurnalistiknya di media-media seperti blog, portal jurnalisme warga, media komunitas, atau media arus utama yang menyediakan kanal khusus bagi jurnalis warga.

Baca:  WALHI Aceh: Aceh Merugi Lebih 10 Trilyun Atas Kesalahan Pembangunan

“Tren jurnalisme warga yang terus meningkat membuat media arus utama kini mulai menyediakan kanal-kanal khusus untuk menampung tulisan dari warga. Inilah yang harus dimanfaatkan oleh warga, tentunya dalam hal ini para individu harus memiliki kecakapan meracik informasi sebagaimana halnya yang dilakukan oleh para jurnalis,” ujar Ihan Nurdin.

Hal senada juga disampaikan jurnalis Kompas TV, Nova Misdayanti Mandasari, yang menitikberatkan pada optimalisasi fungsi media sosial untuk menyuarakan berbagai kepentingan masyarakat. Untuk menghindari delik, Nova mengingatkan agar setiap informasi yang disebarluaskan melalui media sosial hendaknya tidak bertentangan dengan aturan-aturan dalam UU ITE.

“Karena itu biasakan meliput suatu peristiwa melalui pengamatan langsung, sehingga menggambarkan kondisi yang nyata. Utamakan untuk menyampaikan urusan-urusan publik daripara urusan pribadi. Meskipun jurnalisme warga, tetapi informasi yang disampaikan haruslah berkualitas,” kata Nova.[]

Sumber: https://www.acehtrend.com/2019/02/25/walhi-aceh-latih-jurnalisme-warga-bagi-masyarakat-beutong-ateuh-banggalang/?fbclid=IwAR10xnv9xXWxA315FLPiFxHCwWHQASoIG_-hMw0Kwk43ghArJRENn3AK2CI