CATATAN KRITIS 2017

CATATAN KRITIS 2017

Kami Tolak Tambang PT. EMM

WALHI ACEH: PT SI DAN PT SCA JANGAN TIPU MASYARAKAT ACEH

Banda Aceh, 18 Mei 2016

Persoalan lingkungan hidup bukan sekedar publikasi AMDAL ke masyarakat melalui pemberitaan maupun share dokumen. Masyarakat harus paham dokumen AMDAL hanyalah bentuk data informasi dan teknik pekerjaan lapangan yang tidak bisa diandalkan untuk menyelesaikan persoalan jangka panjang. Kasus PT Lafarge Semen Indonesia harusnya menjadi pembelajaran bagi masyarakat saat dihadapkan dengan persoalan limbah dan respon perusahaan atas kejadian yang dihadapi warga. Harusnya ada proses belajar bersama antara masyarakat Lhok Nga Aceh besar dengan masyarakat Laweung sebelum menolak atau menerima kehadiran perusahaan.

Produksi 3 juta ton/tahun semen tentu membutuhkan banyak bahan baku yang dikeruk di Laweung, penting memastikan Guha Tujoh tidak mengalami kerusakan dan masyarakat masih bisa akses kesana, sehingga tidak menggangu keindahan alam yang tidak bisa digantikan dengan sejumlah uang yang didapatkan dari produksi semen. Masyarakat juga perlu memastikan dana CSR sebagai dana yang disiapkan penyelesaian masalah kemudian hari mestinya tertuang dalam bentuk dokumen resmi yang dibuat oleh perusahaan yang diketahui oleh parapihak sebagai dana yang dikelola secara transparan, mandiri dan bebas intervensi kelompok manapun. Hal ini penting hingga perusahaan bertanggung jawab terhadap janjinya.

Setiap kehadiran perusahaan pertambangan jenis apapun menawarkan banyak janji demi perbaikan ekonomi warga, teknologi ramah lingkungan dan berbagai perbaikan keadaan negatif menjadi positif. Namun seringkali menjadi janji semu yang tidak pernah direalisasikan sepenuhnya. Semoga masyarakat Laweung belajar dari Aceh Utara yang pernah mencapai puncak jayanya atas kekayaan sumberdaya alamnya namun pada akhirnya menderita karena lingkungan hidup mereka menjadi korban keganasan pembisnis.

Luas area yang direncanakan 1.500 hektar akan menghilangkan wilayah kelola rakyat berupa hak atas tanah untuk mayoritas petani yang sangat tergantung pada air bersih dan tanah. Oleh karenanya, WALHI Aceh menyarankan untuk tidak menerima sejumlah dana atas ganti rugi lahan, sebaiknya meminta perusahaan untuk mencari lahan lain sebagai pengganti sehingga masyarakat tetap memiliki tanah sebagai sumber kehidupan.

Baca:  Kapal Pataya III Cemari Laut Sabang

WALHI Aceh sejauh ini belum menerima dokumen AMDAL perusahaan, tentu akan kami kritisi kembali dalam sidang AMDAL nanti, sebagai organisasi yang bergerak pada isu lingkungan hidup; kami berkomitmen mengawal seluruh kebijakan hukum lingkungan hidup, sekalipun bacaan awal kami kehadiran perusahaan ini diterima oleh banyak kalangan yang dianggap sebagai agenda perbaikan Aceh dari segi pembangunan dan ekonomi.

No Comments Yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Lingkungan Hidup Dunia

Hari Lingkungan Hidup Dunia

WALHI Aceh Bersama Mahasiswa Tanam Pohon di Hari Bumi

WALHI Aceh Bersama Mahasiswa Tanam Pohon di Hari Bumi