Galeri Gugatan TUN

Walhi Aceh Tolak Pengembangan Panas Bumi di Leuser

Banda Aceh, 24/8/2016- Sehubungan dengan surat dari dari Gubernur Aceh yang disampaikan kepada Ibu Menteri, nomor surat 677/14266 tertanggal 16 Agustus 2016 perihal Dukungan Pengembangan Potensi Panas Bumi Oleh PT Hitay Panas Energi, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Eksekutif Daerah Aceh mengirimkan surat keberatan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutananan Republik Indonesia, Selasa (23/8/2016).

Dalam surat tersebut, Direktur Walhi Aceh, Muhammad Nur menjelaskan, surat Gubernur Aceh mengajukan permohonan kepada Menteri untuk merevisi sebahagian zona inti Taman Nasional Gunung Leuser menjadi zona pemanfaatan dan memberi izin kepada PT Hitay Panas Energi melakukan eksplorasi di zona inti Taman Nasional Gunung Leuser.

“Bahwa Qanun Aceh Nomor 19 Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh Tahun 2013 – 2033, yang menjadi dasar dari Gubernur Aceh untuk mengajukan surat permohonan, di mana qanun ini tidak mengakui Kawasan Ekosistem Leuser (Taman Nasional Leuser adalah termasuk bahagian didalamnya) sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) yang berada di Provinsi Aceh sehingga qanun ini tidak selaras dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, dan dalam penetapannya qanun tersebut tidak mengindahkan Kepmendagri Tentang Evaluasi Raqanun Tentang RTRW Aceh Tahun 2014-2034,”terang M.Nur.

Dia juga mengatakan, perubahan zonasi inti Taman Nasional Gunung Leuser menjadi zona pemanfaatan, serta memberi izin eksplorasi kepada PT Hitay Panas Energi bukanlah sikap yang bijak dan akan menjadi preseden buruk di masa yang akan datang. Hukum (peraturan perundang-undangan terkait tentang perlindungan alam) boleh saja di rubah-ubah untuk mengakomodir segala bentuk keinginan dan atau kepentingan bisnis Pelaku Usaha.

Kawasan TNGL pada saat terus dirusak oleh kegiatan penebangan liar, perkebunan liar baik dalam skala kecil maupun besar tanpa mampu dihentikan oleh otoritas terkait yang berwenang untuk melakukan penegakkan hukum. Oleh karena itu patut dikhawatirkan pemberian izin eksplorasi kepada PT Hitay Panas Bumi di zona inti akan memperburuk kerusakan yang terjadi di TNGL, seperti pembagunan fisik, di antaranya pembangunan jalan yang akan menuju zona inti yang akan mempermudah akses pencurian kayu,perambahan dan aktifitas illegal lainnya.

Baca:  WALHI ACEH: PT SI DAN PT SCA JANGAN TIPU MASYARAKAT ACEH

“Kawasan TNGL adalah Cagar Biospher dan ASEAN Heritage Park yang merupakan satu-satunya kawasan hutan di dunia yang menjadi habitat bersama bagi Gajah Sumatera, Badak Sumatera, Harimau Sumatera dan Orangutan Sumatera yang merupakan 4 spesies kunci Sumatera dan lokasi yang dimohonkan tersebut terletak di zona inti TNGL yang merupakan habitat terpenting bagi Badak Sumatera, Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, Orangutan Sumatera yang tersisa di dunia,” ungkap aktivis lingkungan hidup itu.

Rencana pemanfaatan geothermal di Kawasan Zona Inti TNGL akan berdampak buruk terhadap keberadaan dan ancaman habitat 4 spesies kunci Sumatera di kawasan tersebut, mendegradasi kualitas air serta akan mengancam sumber ekonomi masyarakat sekitarnya yang sebagian bergantung pada pemanenan ikan air deras.

“Rencana pemanfaatan geothermal di kawasan tersebut dapat diusulkan dialihkan ke lokasi potensial goethermal lainnya di provinsi Aceh, yang berada di luar kawasan konservasi,” harapnya.

Selain itu, Walhi juga berharap Menteri LHK mau menindaklanjuti harapan pihaknya, demi tetap terjaganya salah satu sumber kehidupan di bumi Aceh. Sebagai urat nadi Aceh, Kawasan tersebut harus dilindungi. []

Sumber: AcehTrend

Komitmen Bersama

Komitmen Bersama