Galeri Gugatan TUN

Warga Menggamat Melaporkan Kasus ke Walhi Aceh

Banda Aceh, 20/7/2016

Warga kecamatan Kluet Tengah (Menggamat) Kabupaten Aceh Selatan mempersoalkan keberadaan PT. Islan Gencana Utama di daerah mereka. Keberadaan perusahaan tersebut mereka anggap telah berdampak negatif terhadap kelangsungan ekonomi warga, sumber mata air, dan mengakibatkan bencana banjir. Informasi yang diterima oleh warga, tahap pertama perusahaan itu akan mengambil kayu sebanyak 3000 ton di atas areal lahan sekitar 1000 ha, dan kayu itu di bawa ke Kecamatan Pasie Raja untuk diolah di pabrik perusahaan tersebut.

Ada tiga belas desa dalam kecamatan Kluet Tengah yang berdampak langsung akibat dari kehadiran PT. Islan Gencana Utama. Namun selain itu, ada sekitar empat kecamatan lain yang juga ikut kena dampak, seperti Kluet Timur, Kluet Selatan, Kluet Utara, dan Pasie Raja.

Sutrisno mewakili warga Menggamat menyampaikan persoalan tersebut kepada Walhi Aceh. Kepada Walhi Aceh disampaikan keberadaan PT. Islan Gencana Utama yang melakukan penebangan kayu telah berdampak serius terhadap aliran sungai dan telah terjadinya bencana banjir bandang di daerah mereka. Oleh karena itu, dia berharap kepada Walhi Aceh untuk melakukan advokasi dan mendampingi mereka dalam upaya penyelesaian persoalan tersebut. Hal yang sama juga disampaikan oleh Mukti selaku koordinator warga di Menggamat yang dikonfirmasi melalui handphone oleh Walhi Aceh.

Dalam kesempatan yang sama, Sutrisno juga menyerahkan kepada Walhi Aceh Surat Keputusan Bersama yang ditandatangani oleh 13 geuchik, 13 ketua pemuda, dua mukim, Pangsago, dan Ketua SAPAMA tertanggal 17 Desember 2015. Dalam surat tersebut menetapkan seluruh masyarakat Menggamat, Kecamatan Kluet Tengah telah disepakati bersama tentang tambang yang bekerja dikawasan Menggamat / penebangan kayu yang berbentuk perusahaan, oleh karena itu kami tidak setuju, dikarenakan peraturan dan aturan tidak pernah ditepati, kami telah merasakan dengan adanya pertambangan selama ini kami warga Menggamat tidak merasa nyaman dan tentram tentang banjir dan banyak perkebunan yang hancur dan rusak.

Surat tersebut dibuat bersamaan dengan penolakan tambang bijih besi oleh PT. Beri Mineral Utama. Namun, Sutrisno menganggap persoalan tambang tersebut sudah selesai dan tinggal sekarang persoalan perusahaan kayu yang masih dituntut oleh warga.[]

Baca:  Perusahaan Sawit tak Sejahterakan Singkil

Komitmen Bersama

Komitmen Bersama