Galeri Gugatan TUN

Zazuli Itu Seorang Pejuang Lingkungan Hidup Bukan Pelaku Kriminal

Banda Aceh, 17/10/2017. HGU PT. Asdal Prima Lestari (APL) perkebunan kelapa sawit yang dituang melalui SK HGU Nomor 15/HGU/LPN/1996 yang diterbitkan pada tanggal 27 Mei 1996, dengan luas area kebun 5.074 hektar. HGU PT. APL yang tersebar di Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam. Berdasarkan fakta dilapangan HGU PT. APL tumpang tindih dengan lahan warga, hal ini juga diperkuat oleh hasil Pansus DPRK Aceh Selatan.

Konflik lahan warga dengan PT. APL sudah terjadi mulai tahun 1996, dan keberadaan kebun warga dalam areal HGU diakui oleh PT. APL. Permasalahan kembali terjadi pada tahun 2008 sampai dengan akhir tahun 2017. Berbagai upaya yang sudah dilakukan warga dalam upaya penyelesaian konflik, mulai dari aksi massa, serta berdialog dengan pemerintah.

Paska Aksi Pembakaran Fasilitas PT. APL di Desa Lae Langge Kec. Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Polres Aceh Singkil menangkap 4  orang warga, yaitu: Zazuli bin Zaipuddin  (32) atau dipanggil Juli warga Desa Kapa Seusak, Kec. Trumon Timur, Aceh Selatan, ditangkap oleh polisi berdasarkan Surat Perintah Penangkapan No. Sp.Kap/28/VIII/2017/Reskrim, tertanggal 8/8/2017, dari Polres Aceh Singkil. Jamal Bin Endeng (30) warga Desa Lae Langge Kec. Sultan Daulat Kota Subulussalam, ditangkap oleh polisi berdasarkan Surat Perintah Penangkapan No. Sp.Kap/30/VIII/2017/Reskrim, tertanggal 12/8/2017, dari Polres Aceh Singkil. Bolon Padang (57) warga Sigrun Langge Kec. Sultan Daulat Kota Subulussalam, ditangkap oleh polisi berdasarkan Surat Perintah Penangkapan No. Sp.Kap/30/VIII/2017/Reskrim, tertanggal 8/8/2017, dari Polres Aceh Singkil. Serta Samsudin bin Alm Rajali (42) warga Desa Lae Langge Kec. Sultan Daulat Kota Subulussalam. Ditangkap oleh polisi berdasarkan Surat Perintah Penangkapan No. Sp.Kap/32/VIII/2017/Reskrim, tertanggal 12/8/2017, dari Polres Aceh Singkil.

Baca:  Walhi Aceh Dorong Revisi Pergub No 10/2017

Atas penangkapan warga tersebut, Walhi Aceh memberikan pendampingan hukum terhadap terdakwa Zazuli yang di diskriminasi oleh  PT Asdal, melalui kuasa hukumnya hadir di Pengadilan Negeri Singkil, Selasa, 17/10/2017 PN Singkil menggelar Sidang perdana perkara Pengrusakan dan Penebangan 1 (satu) Batang Pohon sawit dengan terdakwa Zazuli dan Bolon Padang dalam Berkas Perkara Nomor 100/Pid.B/2017/PN SKL. Sedangkan pendamping hukum ketiga warga lainnya mampu disediakan oleh pihak keluarga.

Agenda sidang perdana dengan agenda pembacaan Dakwaan Jaksa Penuntut Umum oleh Ramli Damani,SH dkk. Terdakwa Zazuli yang didampingi oleh Kuasa Hukumnya Jehalim Bangun,SH dan Muhammad Reza Maulana, SH. CPL menyatakan akan mengajukan Eksepsi secara tertulis pada agenda sidang yang akan datang Selasa 24/10/2017. Kami sudah persiapkan materi Eksepsi yang akan kami sampaikan pada persidangan yang akan datang sehingga Yang Mulia dapat meyakini bahwa apa yang kami sampaikan adalah proses dan tindakan hukum yang sebenarnya yang terjadi dan berharap mengabulkan Eksepsi Penasihat Hukum Pejuang Rakyat ini.

Memang tidak banyak yang hadir dalam sidang perdana, kami tidak pula melihat dukungan dari masyarakat untuk mendukung dan terus memberi semangat dan suport terhadap salah satu dari kelompok massa itu yang sedang menjalani persidangan ini. Kami harap kebersamaan dan perjuangan bersama yang saat itu dibangun tidak hanya terhenti oleh karena beberapa diantaranya sedang menjalani proses hukum. Biarlah kebenaran akan terungkap jelas pada proses persidangan ini, nanti kami akan ungkap semua jelas di muka Pengadilan.

Cara kuno yg dilakukan oleh PT Asdal untuk membubarkan massa, beberapa diantaranya ditangkap dan dilaporkan agar massa merasa takut dan tidak melakukan lagi  aksi apapun terkait hak yg dituntutnya itu. ini Pejuang kita, Pejuang Hak masyarakat atas tanah dan lingkungan hidup, sekalipun sedang dalam proses persidangan tidak ada kata ia bersalah melakukan tindak pidana sebelum adanya Putusan Hukum yang berkekuatan hukum tetap. Kami berharap Majelis Hakim yang dapat melihat kebenaran dalam pembuktian lebih dari apapun selain itu. Dan berharap Kebenaran dan Keadilan Hukum masih tetap dapat ditegakkan. Dan Terdakwa dapat kembali berkumpul bersama keluarganya dan menggendong anaknya yang baru saja lahir 4 hari yang lalu.[]

Baca:  Warga Krueng Simpo Temui DPRA Terkait Sengketa Lahan Dengan PT. Syaukath Sejahtera

Komitmen Bersama

Komitmen Bersama