PLTA Samarkilang Berada Dalam Habitat Satwa Dilindungi

Siaran Pers

Banda Aceh, 26/1/2021. PT. Bener Meriah Electric Power akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Samarkilang 82 MW di Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah dan jalur transmisi berada di Kabupaten Aceh Tengah. PLTA Samarkilang tersebut menggunakan aliran sungai Krueng Jambo Aye, yang hilirnya sampai ke kawasan Aceh Utara dan Aceh Timur. Luas areal direncanakan mencapai 123 hektar, yang mencakup kawasan hutan lindung, hutan produksi, dan area penggunaan lain (lahan masyarakat). Sejauh ini rencana pembangunan proyek itu sudah sampai pada penyiapan instrumen lingkungan hidup yaitu AMDAL.

Hasil kajian, lokasi rencana pembangunan PLTA Samarkilang 82 MW berada dalam kawasan habitat satwa dilindungi jenis Mamalia yaitu, Badak Sumatera, Beruang Madu, Gajah, Harimau Sumatera, dan jenis satwa terancam punah lainnya. Kehadiran proyek energi tersebut tentunya akan menjadi ancaman terhadap kelangsungan habitat mereka. Apalagi dalam kajian AMDAL tidak ditemukan pengelolaan khusus untuk melindungi mereka. Jikapun ada, hanya pengelolaan pada tahap konstruksi, sedangkan pada masa operasi produksi hanya dilakukan upaya penggiringan jika terjadi konflik dengan manusia.

Seharusnya, parameter keberhasilan pengelolaan lingkungan hidup dalam konteks perlindungan satwa tidak hanya diukur tingkat berapa besar terdampak terhadap manusia, akan tetapi sejauh mana mampu melindungi keberlangsungan hidup masing-masing spesies. Ini masalah serius dan menjadi pintu masuk pemusnahan satwa kunci yang menjadi kekayaan alam di Aceh. Artinya, pembangunan PLTA Samarkilang tidak memiliki nilai keadilan ekologis, karena hanya mengedepan kepentingan ekonomi dan politik.

Selain itu, lokasi pembangunan PLTA Samarkilang tidak terakomodir dalam Qanun Aceh No 19 Tahun 2013 tentang RTRW Aceh Tahun 2013 – 2033. Tidak cukup hanya dengan rekomendasi akan diakomodir dalam qanun revisi nantinya, karena pembangunan ini berada di dua kabupaten, tentunya harus berpedoman pada tata ruang provinsi. Karena Kecamatan Syiah Utama atau lebih dikenal dengan Samarkilang merupakan daerah yang memiliki kekayaan biodiversity. Secara penetapan kawasan, Samar Kilang memiliki Kawasan Hutan Lindung, Hutan Produksi, Taman Buru, dan kawasan perlindungan sempadan sungai. Artinya, Samarkilang memiliki peran penting tidak hanya sebagai penyangga kehidup manusia, akan tetapi juga merupakan habitat satwa kunci yang ada di Aceh.

Jangan sampai kehadiran investasi ini menjadi masalah baru bagi Samarkilang ditengah beragam persoalan lainnya yang belum terselesaikan selama ini yang membuat Samarkilang terus tertinggal dan terisolir dibandingkan daerah lain yang ada di Kabupaten Bener Meriah.

Selanjutnya, lokasi PLTA Samarkilang berada dalam Peta Indikatif Penundaan Izin Baru (PIPIB) sesuai KepmenLHK No.4945/MenLHK-PKTL/IPSDH/PLA/1/8/2020. Meskipun terdapat instruksi presiden yang membenarkan pembangunan tersebut atas dasar karena jenis kegiatan vital dan strategis, namun dalam konteks kebutuhan daerah apa pentingnya PLTA tersebut? Bukankah untuk kepentingan pemenuhan energi di Aceh sudah cukup banyak pembangkit energi yang sedang dibangun. Jadi, pembangunan proyek energi di Aceh bukan bersifat pemerataan proyek, tapi harus bersifat kebutuhan. Untuk itu sudah sepatutnya kita duga, proyek energi PLTA Samarkilang hanya untuk kepentingan bisnis segelintir orang yang mengatasnamakan kepentingan masyarakat. Karena, PLTA Samarkilang juga tidak termasuk Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT. PLN Tahun 2019 – 2028 berdasarkan Kepmen ESDM No.39K/20/MEM/2019, artinya PLTA Samarkilang diluar perencanaan PT. PLN dalam agenda pemenuhan kebutuhan listrik nasional.

Sebenarnya Kabupaten Bener Meriah memiliki potensi yang luar bisa disektor riil, seperti pertanian dan perkebunan. Seharusnya pemerintah kabupaten dan provinsi fokus pada peningkatan produktifitas dan menjamin harga pasar terhadap komoditas tersebut yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Untuk itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh menentang dan tidak sependapat terhadap rencana pembangunan PLTA Samarkilang 82 MW di Kabupaten Bener Meriah. Karena pembangunan tersebut tidak sesuai dengan semangat penyelamatan lingkungan hidup, keadilan ekologis, dan diduga bertentangan dengan aturan perundang-undangan. Jikapun kemudian pemerintah memaksakan diri untuk memberikan izin, tidak tertutup kemungkinan izin tersebut akan diuji secara hukum.[]

Eksekutif Daerah WALHI Aceh

Muhammad Nur

Direktur